Kamis, 06 Oktober 2011

cerpen ke-dua

Sebuah Pengkhianatan

                Punya sahabat sejati memang keinginan semua orang, terutama aku “Effie Edwina Sista” yang kata mamah papah si arti namaku berarti teman yang berharga, jujur dan mulia. Rasanya aku sangat bersyukur punya nama tersebut, karena sepertinya aku melihat cerminan dari nama ku itu, Zara dia adalah sahabat yang selalu ada, disaat senang, sedih, ketika ada kebahagiaan kita saling berbagi, ketika ada duka kita saling mengasihi. Dia sepeti bagian hidup dalam hidupku.
                Kami bersahabat dari awal masuk SMP dan sampai sekarang kami kelas 2 SMA, beruntungnya aku sejak SMP sampai SMA selalu sekelas dengan Zara itulah yang membuat aku dan Zara menjadi sahabat dekat. Tetapi di kelas 2 ini kami tidak sekelas karena kami masuk jurusan yang berbeda, aku masuk jurusan IPS dan Zara masuk jurusan IPA. Zara bagiku sangat baik walaupun dia sering mempermainkan laki-laki, bahkan sampai menangis berlutut dihadapannya, bisa dikatakan dia tidak punya perasaan. Apapun yang dia inginkan asal dia senang dia akan melakukannya. Beda sekali denganku menyakiti laki-laki saja rasanya aku tak tega apalagi membuatnya sampai menangis karnaku.
* * *
                Waktu sudah pukul 07.45, oh tidak aku akan terlambat. Aku turun dari mobil Ayahku yang mengantarku sampai depan gang sekolah. Aku langsung menuju gerbang, gerbang sekolahku cukup jauh mobil Ayah tidak muat. Aku harus berlari dan tiba-tiba terasa ada senggolan, aku tersungkur, semua buku cetak yang ada di tangan tiba-tiba berantakan di aspal. Aku langsung terbangun dan membereskan buku-bukuku ternyata aku tidak sendirian di situ, ada seorang laki-laki yang ikut membantuku dan dia berkata “maaf aku ga sengaja, aku sudah terlambat aku harus mendatangi guru piket“. Belum aku bicara, setelah selesai membereskan buku dia melesat pergi begitu saja. Kesal sekali padahal banyak kata-kata yang ingin ku lontararkan. Tapi mulutku bungkam ketika melihat wajahnya. Tampan sekali, hampir satu menit aku tediam di jalan seperti orang bodoh. Setelah sadar dari lamunan, aku melanjutkan lari menuju kelasku. Tidak terjadi apa-apa guru di kelasku belum masuk.
                Pelajaran pertama berjalan dengan lancar, aku dan Zara pergi ke Kantin untuk mancari makanan, mengisi perut yang sudah lama protes. Walaupun kita tidak sekelas tetapi dimana ada Zara disitu ada aku. Ketika kami sedang duduk santai, tiba-tiba mataku tertuju pada satu arah disana. Orang itu, yang tadi pagi membuat buku-buku cetak ku berantakan.
                “hei kenapa kau melamun seperti itu ?” Tanya Zara
                “za dia sangat tampan.” Jawabku
                “siapa?” Tanya Zara penasaran
                “dia, rambutnya yang hitam begitu menawan, bentuk tubuhnya yang seperti manekin pria, senyumnya manis, lesung pipinya menambah kesempurnaan” jawabku sambil menunjuk pria yang sedang berjalan itu.
Tapi Zara melihatnya dengan kaget dan raut mukanya yang tidak biasa
“oh dia anak baru di kelasku, kamu naksir?” Jawab Zara dengan raut yang tak biasa dan aneh
“ya ra aku naksir, sepertinya dia bisa mengobati luka traumaku.”
                Aku memang sudah lama mengalami trauma cinta, sejak putus dengan Kevin pacarku ketika aku duduk di kelas 1 SMA, aku seperti mati rasa tidak pernah mengalami perasaan suka lagi, apalagi cinta tapi kini aku seperti menemukan sesuatu yang baru dalam hidupku.
“ baiklah akan aku carikan informasi tentang dia buat sahabatku yang sangat tergila-gila ini.” ledek Zara
“Terimakasih sahabatku”
                Zara memang paling mengerti tentang apa yang aku mau, aku yakin segera dia akan mendapatkan banyak informasi tentang cowok ganteng itu, karena dia banyak dekat dengan geng laki-laki di sekolah kami,  diapun bisa mencari informasi dengan mudah.
* * *
                Keesokannya Zara sudah mendapatkan info tentang dia, bahkan bukan hanya sekedar informasi kecil, namun seperti biodata lengkap. Namanya Brian Lutfy Sananta, dia anak baru di kelas XI IPA 5, Dia pindahan dari Banten, Rumahnya tak jauh dari sekolah, Dia pindah karena tugas orangtuanya, tapi yang paling aku terkejut dia menyebutkan Brian sangat menyukai warna cokelat. Ko Zara bisa secepat itu tau warna kesukaannya, padahal dia baru sekolah sehari apa mungkin perkenalan di kelasnya sedetail itu ? tapi aku tak terlalu memikirkannya.
                Hari ini pulang sore, karena ada tambahan jam eskul. aduh biasanya sore begini ayah telat jemput, aku menunggu di halte depan sekolahku. tak berapa kemudian, cowok tak asing lagi bagiku yaa Brian Lutfy Sananta, dia baru saja keluar dari gerbang sekolah dia akan lewat di depanku, rasanya jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Tapi tak hanya sekedar lewat, dia berhenti di depan saat mata ku memandangnya dengan lurus .
                “hei, belum pulang ?” Tanya dia dengan ramah diiringi senyuman .
                “belum ,tadi ada jam eskul, kamu sendiri baru pulang ?”
                “ yaa tadi masih mengurus kepindahanku, oh iya maaf ya kemaren aku tidak sengaja menabrakmu aku langsung kabur begitu saja, soalnya aku sedang buru-buru, bagaimana kalau menebus kesalahanku aku menemani mu menunggu jemputan ? “
Aku seperti mimpi, orang yang sedang mengisi hatiku ada di depanku, apa yang ingin ku katakan rasanya semuanya membisu, aku tak mampu berkata-kata .
                “baiklah“ aku jawab dengan sangat bersemangat J
                Tak terasa waktu memang berputar cepat, jemputanku sudah datang aku harus mengakhiri perbincangan ku dengan Brian padahal aku ingin lebih lama bersamanya. Sejak pertemuan pertama kami, kami jadi sering bertemu dan mengobrol, bahkan kami sudah bertukar nomer hp, kadang setiap ada waktu kami sering telfonan hanya sekedar mengobrol. Sepertinya dia bisa menjadi teman yang asik.
* * *
                Sudah lama aku ingin menceritakan kedekatanku dengan Brian kepada Zara tapi akhir-akhir ini dia sibuk bahkan kami jarang sekali bertemu, aneh rasanya seperti Zara sedang menjaga jarak denganku. Tapi aku dengar-dengar kini dia sedang dekat dengan teman sekelasnya, ohh may god ketika mendengar berita itu pikiranku menyeruak apakah BRIAN LUTFY SANANTA? jika itu terjadi rasanya hatiku tidak ingin lagi jatuh cinta, aku pasti akan mengalami mati rasa yang kesekian kalinya, aku tidak ingin mempunyai sahabat lagi, bahkan ketika telinga ku mampu mendengar aku ingin tuli saja, aku ingin tusukkan ujung pisau yang tajam dari belakang di hati sahabatku. ahh pikiranku memang gampang berlebihan, tak mungkinlah sahabat baik seperti Zara tega seperti itu .
                Hari minggu, aku ingin mengajak Zara ke mall karena sedang ada big sale, biasanya kami memang tak mau kelewatan belanja jika ada big sale. Tapi yang buat aku kecewa dia tak mau menemaniku, dia bilang ada acara . hmm yaa sudah aku akan mengajak Randy saja. Dia tetangga ku yang paling baik hati. Cowok ganteng yang terlalu baik dengan ku. Tapi sayang usia kami terpaut jauh, aku hanya menganggapnya sebagai kaka, walaupun kadang perhatiaanya berlebihan buat seorang kaka.
                Akhirnya setelah aku bujuk dengan rayuan paling manisku kak Randy pun tidak berfikir panjang untuk bersedia mengantarku. Kami pergi tepatnya jam 03.00 kamipun langsung menuju mall sasaran yang mengadakan big sale dengan menggunakan motor ninjanya yang bermodif keren berwarna coklat .
                Kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu, sebelum berburu baju, tas, sandal dan accecories lainnya.
                Hei apa yang aku lihat, dengan siapa Zara asik mengobrol tertawa-tawa lepas, seorang laki-laki yang aku kenal, tak asing lagi, dia adalah Brian Lutfy Sananta. Apa yang Zara lakukan dengannya ? kakiku berhenti tak mampu melanjutkan langkahku. aku lemas seperti tak berdaya disitu. Ingin aku rasanya berhenti mendengar tawanya yang begitu menunjukan tawa bahagia, ingin rasanya aku menutup mataku rapat agar tidak melihat kemesraan yang mereka buat, ingin kutusukkan ujung pisau yang tajam lalu ku tancapkan di tengah bagian hatinya, ku cabik robek hingga tak tampak seperti hati, karena dia adalah orang yang tak pantas punya hati, hati yang kotor namun ku kira ia bersih, hati seorang ZARA VELYC ANDIN.
                Disaat air mataku tak mampu menahan balutan lukaku, ditanganku seperti ada rasa lembut menyelimuti, ya kak Randy sepertinya dia sedekit mengerti apa yang aku rasakan karena diapun melihat kebersamaan Zara dengan lelaki itu. Kak Randy mengenal betul kepribadianku, seperti dia adalah cerminan dari diriku. Tak berkata-kata Kak Randy langsung menarik tanganku menuju cafe, akupun seperti boneka mainan yang sedang di kendalikan pemiliknya, tanpa mengelak aku langsung berjalan.
                Di cafe aku menceritakan semua yang terjadi, tapi kak Randy seperti menenangkan hatiku air martaku yang tadi menetes kian terhapus. Kata-kata nasehatnya yang begitu menyentuh mampu mengembalikan suasana. Setelah berbelanja puas kak Randy mengatarku pulang.
* * *
                Setelah kejadian itu hatiku selalu diselimuti kegalauan, aku belum mampu melihat wajah Zara si penghianat itu. Ketika pulang sekolah tiba-tiba Zara ada di depan kelasku, oh tidak itu pertama kali aku melihat muka penghianat seperti tak berdosa itu menampakkan senyum manisnya, harus berkata apa aku ? apakah aku harus marah ? mencabik-cabik mukanya ? dan tiba-tiba dari arah berlawanan, Brian menghampiri kami, oh pembawa luka satu datang lagi. Zara tampak bingung dan gemeteran seperti sedang mengalami ketegangan saat menghadapi ujian nasional saja. Tapi yang terfikirkan oleh ku adalah tidak meluapkan semua emosiku.
“Zara tenang saja aku sudah tau semua “
“ tau apa ? “
“kau berpacaran bukan dengan Brian ?“
Itu kata terakhirku lalu pergi meninggalkan mereka
Zara mengejarku begitupun Brian, Sampailah kita di taman sekolah, Zara menyuruhku berhenti, ya aku turuti saja permintaan penghianat itu tapi mungkin untuk terakhir kalinya.
                Zara menjelaskan semuanya, bahwa dia dengan Brian memang bukan teman biasa, sebelum Brian pindah dia adalah teman Zara sejak kecil ketika tinggal di Banten, bahkan mereka sempat menjalin hubungan, ketika Zara pindah mereka lost contact, dan kini cinta yang dulu dipertemukan kembali. Tapi pertemuan yang tidak tepat, membuat mereka harus berkhianat, Zara menutupinya dariku karena dia tak ingin melihatku meraskan sakit lagi.
                Tapi kini, aku merasakan sakit yang amat melebihi sakitku dikhianati cinta, sakit dikhianati orang yang sangat dipercaya. Sejak itu aku memutuskan tidak akan ada permusuhan, biar saja aku mengalami sakit karena sakit ini aku yang membuatnya sendiri, berfikir kembali ketika awal pertemuan dengan Brian, kalau saja aku tidak telat saat itu, tidak akan aku merasakan sakit hati sekarang.
                  Aku memutuskan untuk tetap berteman dengan Zara walaupun dia tidak akan aku anggap lagi sebagai sahabatku, karena seorang sahabat tak akan mungkin melukai hati sahabatnya dengan sengaja. Dan Brian dia hanyalah sepenggalan cerita kecil yang mengotori hatiku, dan membuat luka yang amat mendalam.
-the end-

Kamis, 29 September 2011

BUKAN HARI TERAKHIR





Hari ini tepatnya hari rabu 11 mei 2011, aku mengawali pagiku yang cerah ini dengan kata-kata yang indah, bernyanyi-nyanyi tak jelas sepertinya aku menemukan sisi letak kebahagiaanku hari ini di pagi hari. kebahagiaan itu mampu membuatku semangat dan semoga saja akan mengesankan tentunya.
Namaku Nessa, aku siswi  kelas X SMA mungkin diusiaku yang baru beranjak dewasa ini rasanya aneh bila aku sudah menemukan orang yang benar-benar aku cintai, kekasihku bernama Asep jangan salah walaupun namanya Asep menurutku dia orang paling kasep di dunia ini, bagiku dia tak sekedar indah, dia lebih indah dari seorang Romeo, entah apa yang membuatku terpesona melihatnya, rasanya dia adalah segala yang ku inginkan dalam hidup. Dan aku sadar dia telah menjadi bagian penting dalam hidupku.
Ketika aku sedang bermain facebook, karena aku siswi baru di SMAku, sengaja aku mencari teman yang bersekolah sama  denganku. Aku masuk ke grup SMAku, aku add orang-orang yang ada di grup itu. Disitulah awal kebahagiaan dan penderitaanku dimulai. Disitu aku mengenal Asep yang sekarang menjadi kekasihku, dia seorang mahasiswa disebuah Universitas terkenal di Cirebon, tapi dia alumni dari SMAku. ketika kita sudah berteman di facebook kita sering wtwn (Wall To Wall ) , sampai akhirnya kita bertukar nomer hp, kita saling bertemu dan akhirnya kita menjalin sebuah hubungan yang lebih dari seorang teman atau sahabat biasa .
Seperti  biasa pagi-pagi aku harapkan sapaan manja dari kekasihku, lama sekali menunggu sampai termenung tidak terasa lagi waktu memang berputar cepat sudah menunjukan pukul 06.30 dan aku harus segera bergegas untuk ke sekolah. Mungkin hari ini aku kurang beruntung dan juga terlalu mengharapkannya, dia sama sekali tak menyapa pagiku padahal sapaan dari dia saja bisa membuatku semangat melanjutkan hari ini, akhir-akhir ini memang dia sibuk dengan kehidupannya sendiri , entahlah akupun kurang tau apa yang dia lakukan ? tapi aku hanya mencoba mengerti dia seorang mahasiswa mungkin sibuk tak sempat meluangkan waktu sedikitpun walaupun hanya sekedar sapaan kecil .
Walaupun harapan ku sia-sia namun aku tetap bersemangat untuk hari ini, mungkin siang dia pasti akan ada waktu untukku. Aku selalu ingat baru beberapa minggu lalu dia berkata “jangan bosan dan jangan tinggalkan aku ! ” aku selalu berfikir akan kata itu bahwa dia benar-benar kekasih yang aku harapkan selama selama ini, dia seorang lelaki dewasa  yang tak mungkin tega membuat wanita menangis karnanya. tanpa dia berkata begitupun aku takan bosan dan meninggalkannya karana aku sudah mencintainya dengan tulus. mungkin disini aku diajarkan sebuah penantian, kesabaran, dan tentunya kesetiaan .
Siang hari diapun tak beri sedikit sapaannya untukku, aku merasakan kekosongan dalam bentuk kehampaan dalam hatiku. aku tak bisa terus berdiam menunggu, aku terlalu takut akan hal yang terjadi padanya, mungkin dia tak sempat mengabariku karena dia sakit, dia kecelakaan ,dia ada masalah, dia ada di kantor polisi karena menabrak orang, atau apalah pikiranku langsung menyeruak kemana-mana. Aku sempatkan untuk memulai menyapanya, hanya sekedar pesan singkat
“selamat siang kekasihku J  sapaku
Diapun hanya membalasnya .
“iyaa, maaf aku sedang sibuk, aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu, tapi tidak sekarang, nanti ku telpon “
Ketika membaca pesan itu aku melongo seperti orang bodoh. Apa ? apa yang ingin dia katakan ? benar-benar membuat aku tak tenang sangat membuat aku penasaran setengah mati, aku benar-benar takut saat itu karena dia tidak pernah mengatakan hal seserius itu. Mungkin aku harus bersabar dia akan mengatakannya padaku. Tapi aku merasa bersalah padanya dia benar-benar sedang sibuk, aku telah mengganggu waktunya namun ini perasaan wanita yang ingin tahu segala hal tentang lelaki yang ia cintai.
 “aku takut kamu pergi
Kamu hilang kamu sakit
Aku ingin kau disini
Disampingku selamanya..”
Sore, dengan istirahat sejenak menghilangkan lelahku, tiba-tiba hanphone ku berdering dengan suara lagu vierra-takut dengan nama kontak my lovely . aku sengaja memberi nada dering vierra-takut untuk nada panggil khusus kekasihku. Karena waktu awal kami bertemu dia menyanyikan lagu vierra-takut untuk aku. Aku senang sekali waktu itu bahkan aku sempat membayangkan hidup bersamanya disuatu kerajaan yang mewah aku jadi permaisuri dan dia jadi pangerannya. Hmmm mungkin hayalanku terlalu tinggi .
Sebenarnya aku bingung dia tiba-tiba menelpon, dia menelfon tiba-tiba seperti ini waktu yang tak biasanya untuk berbincang-bincang dengan dia . tapi aku jawab tentunya dengan tutur kata yang manis akupun sempat berfikir apakah dia ingin mengatakan suatu hal itu , yang membuat aku terus penasaran . Diapun menyapaku,berkata sangat manis, akupun senang mendengan alunan sapa manja kata-katanya yang begitu perhatian.
Tapi seakan diam sejenak diapun berkata “ lebih baik hubungan kita sampai disini” katanya dengan alunan nada yang berbeda.
Akupun sempat rontak seakan aku mendengar kata-kata yang tak pantas dia ucapkan, aku seperti mengalami mati, sakit sekali rasanya begitu menusuk di dada, aku seperti berhenti bernapas . “Tuhan tolong ambil rasa sakit ini sejenak agar aku bisa berbicara “ itu yang ku pikirkan saat itu meminta tolong kepada Tuhan .
 “kenapa , apa alasannya” Akhirnya aku bias berbicara .
dia hanya menjawab “aku hanya ingin sendiri dulu”
sungguh kata-kata yang tak pantas , jelas-jelas semua orang tak bisa hidup sendiri, setiap orang membutuhkan orang lain ! aku tak bisa menahan tangisku seakan pecah dalam hatiku namun tak aku tampakan hanya dalam hati saja .
“mungkin kita masih bisa berteman bukan? Katanya seperti orang yang tak berdosa.
aku hanya bisa diam sejenak ingin mencoba menguatkan hatiku dan berusaha menerimanya . setelah diam yang cukup lama akupun berkata” okeh baiklah “ sebenarnya hatiku sungguh tak rela sedikitpun melepasnya karna rasa cintaku benar-benar tulus untuknya . tapi aku sadar aku tak bisa memaksaan kehendaknya , aku hanya mencoba menghargainya .
Namun tak tahan setelah telpon itu terputus seperti cintaku . tangisanpun seolah pecah , tak sanggup aku menahannya, merintih akan hati yang sakit ini galau rasanyaa . akupun menangis dan menangis sampai hatiku lelah .
                Hari itu adalah hari terakhirku menjalin hubungan dengannya, orang yang benar-benar sudah mengajarkan dan membuatku jatuh cinta dalam arti sebenarnya. Namun hari itu bukan hari terakhir aku mencintainya .